Pernahkah anda melihat seorang anak yang setiap harinya hanya nonton tv, main game atau komputer aja...? Ternyata kecanduan seperti itu akan membuat kesehatan si anak kurang baik di masa tuanya. Lebih lanjut mengenai hubungan kesehatan dan kecanduan nonton, simak artikel okezone berikut ini:
LONDON - Anak-anak berusia enam tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan televisi atau komputer lebih berpotensi mengalami penyakit jantung dan darah tinggi di kemudian hari. Demikian hasil studi oleh sejumlah peneliti di University of Sydney sebagaimana dilansir Telegraph, Minggu (24/4/2011).
Tim peneliti mengungkapkan bahwa satu jam ekstra di depan layar televisi atau monitor komputer berpeluang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi di masa dewasa hingga 10 persen.
Mereka mengklaim anak-anak yang lebih sering menghabiskan waktunya menonton televisi memiliki pembuluh arteri lebih sempti di belakang mata mereka, yang notabene merupakan salah satu pertanda tisiko penyakit jantung di masa mendatang.
Studi yang dilakukan terhadap 1.492 anak usia enam dan tujuh tahun dari 34 SD di Sydney tersebut juga menemukan bahwa anak-anak yang lebih sering bermain di luar rumah minimal satu jam setiap hari memiliki pembuluh arteri lebih besar dibandingkan mereka yang hanya menghabiskan 30 menit atau kurang dengan kegiatan serupa.
Berdasarkan penelitian itu, rata-rata seorang anak menghabiskan waktu empat kali lebih banyak (1,9 jam) di depan layar televisi maupun komputer ketimbang melakukan aktivitas fisik (36 menit).
Tim peneliti juga menemukan bahwa setiap menghabiskan satu jam di depan layar, pembuluh arteri di belakang mata akan mengecil sekira satu per 153 ribu millimeter atau setara dengan tekanan darah10 mmhg. Sebagai informasi, tekanan darah normal adalah antara 90 hingga 120 mmhg.
Salah satu peneliti, Dr Bamini Gopinath, juga mengklaim bahwa kebiasaan anak menyaksikan siaran televisi maupun bermain game di komputer turut mempengaruhi berkurangnya aktivitas fisik, kebiasaan makan yang tidak sehat serta kenaikan berat badan.
Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts
Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts
Monday, 25 April 2011
Sunday, 6 February 2011
Tips mendidik anak agar mau sholat ...
Alhamdulillah...pagi ini aku bersyukur kepada Allah atas karunia Nya yang sangat besar ini. Begitu terdegaar adzan shubuh di mesjid ....anakku langsung bangun terus membangunkan aku. Biasanya dia selalu bertanya" Sholat di Masjid Yah...?" Kemudian aku langsung bangun dan mengatakan "Iya sholat di Mesjid".
Mendidik anak memang suatu anugerah tersendiri. Yang tidak bisa dinilai dengan uang seberapapun besarnya. Memang pertama kali susah banget untuk ngajak anak melakukan sholat. Namun secara telaten aku kasih tahu kepadanya akan manfaat sholat. Seperti : Orang yang rajin sholat itu nantinya akan disayang oleh Allah dan bisa masuk surga, kalau berdoa dikabulkan dan dijauhkan dari segala bencana dan marabahaya. Kamu kan ingin masuk surga...jadi harus rajin sholat.... syukur-syukur sholat berjamaah di Masjid. Pahalanya 27 kali lipat dibanding sholat di sendiri di rumah.
Mungkin itulah yang membuat anakku begitu semangat untuk sholat berjamaah di Mesjid. Walaupun belum 5 waktu. Karena untuk sholat Ashar dia pas jamnya tidur. Jadi biasanya aku ajari sholat sendiri di rumah. Namun selain sholat ashar, anakku sudah bisa sholat berjamaah di mesjid terdekat. Bahkan saking semangatnya sholat di mesjid...kalau lagi main sama temannya...begitu mendengar adzan...dia langsung pamit sama temannya untuk sholat.
Mudah-mudahan aja kebiasaan ini dibawa sampai tua nanti. Maklum anakku kan baru kelas TK.
Menurut Ustad Arifin Ilham...mendidik anak untuk sholat harus dimulai sejak dini. Jadi itulah yang aku jadikan pedoman. Kebetulan di TK nya memang selalu dikasih motivasi bagi murid-muridnya yang sudah melakukan sholat.
Demikian tips mendidik anak agar mau sholat berjamaah di Mesjid. Mari kita biasakan anak kita untuk mencintai mesjid dan mencintai sholat sejak dini. Semoga Allah memberikan keberkahan dan kebahagiaan hidup kepada kita semua. Amiien.
Mendidik anak memang suatu anugerah tersendiri. Yang tidak bisa dinilai dengan uang seberapapun besarnya. Memang pertama kali susah banget untuk ngajak anak melakukan sholat. Namun secara telaten aku kasih tahu kepadanya akan manfaat sholat. Seperti : Orang yang rajin sholat itu nantinya akan disayang oleh Allah dan bisa masuk surga, kalau berdoa dikabulkan dan dijauhkan dari segala bencana dan marabahaya. Kamu kan ingin masuk surga...jadi harus rajin sholat.... syukur-syukur sholat berjamaah di Masjid. Pahalanya 27 kali lipat dibanding sholat di sendiri di rumah.
Mungkin itulah yang membuat anakku begitu semangat untuk sholat berjamaah di Mesjid. Walaupun belum 5 waktu. Karena untuk sholat Ashar dia pas jamnya tidur. Jadi biasanya aku ajari sholat sendiri di rumah. Namun selain sholat ashar, anakku sudah bisa sholat berjamaah di mesjid terdekat. Bahkan saking semangatnya sholat di mesjid...kalau lagi main sama temannya...begitu mendengar adzan...dia langsung pamit sama temannya untuk sholat.
Mudah-mudahan aja kebiasaan ini dibawa sampai tua nanti. Maklum anakku kan baru kelas TK.
Menurut Ustad Arifin Ilham...mendidik anak untuk sholat harus dimulai sejak dini. Jadi itulah yang aku jadikan pedoman. Kebetulan di TK nya memang selalu dikasih motivasi bagi murid-muridnya yang sudah melakukan sholat.
Demikian tips mendidik anak agar mau sholat berjamaah di Mesjid. Mari kita biasakan anak kita untuk mencintai mesjid dan mencintai sholat sejak dini. Semoga Allah memberikan keberkahan dan kebahagiaan hidup kepada kita semua. Amiien.
Thursday, 6 May 2010
WAspadai Gejala psikopat sedini mungkin dan cari solusinya
Akhir-akhir ini memang banyak gejala psikopat di masyarakat. Baik melalui tayangan film ataupun kejadian nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya adalah apakah penyebab perilaku psikopat tersebut...? Atau bisakah gejala psikopat dideteksi sejak dini dan bagaimana cara penanggulangannya...? Simak artikel berikut:
Gejala Psikopat Bisa Terdeteksi Sejak Anak-anak
Seperti apa tanda-tanda anak yang kemungkinan mengembangkan gejala psikopat?
Ilmu psikologi, mendefinisikan psikopati sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan tidak adanya prinsip moral, emosional dan ketidakmampuan untuk menampilkan perilaku normal. Orang yang memiliki gangguan ini disebut dengan psikopat.
Beberapa ahli kesehatan mental menuturkan bahwa kondisi ini dapat dikenali tanda-tanda awalnya sejak balita yang memungkinkan ia berkembang menjadi seorang psikopat.
Namun terkadang hal ini belum tentu benar, karena karakteristik dan kepribadian seseorang bisa berubah. Selain itu, ada juga orang yang menjadi psikopat saat dewasa karena adanya permasalahan di masa lalu.
Gejala awal yang bisa diperhatikan oleh orangtua adalah anak tidak memiliki rasa empati dan terlihat adanya tanda-tanda bahaya yang muncul dari dalam dirinya.
Meski demikian masih sulit untuk mendeteksi apakah seorang anak bisa mengembangkan psikopat atau tidak, karena faktor lingkungan juga turut mempengaruhi.
Seperti dikutip dari Personalitydisorder.com, Kamis (6/5/2010) berdasarkan sebuah studi yang dilakukan selama 25 tahun menunjukkan sejak usia 3 tahun ada temperamen dan fisiologis yang berbeda antara seorang anak yang memiliki kecenderungan sebagai psikopat saat dewasa atau tidak.
Hasil ini telah dipublikasikan dalam The Journal of Abnormal Psychology pada tahun 2007.
Tim peneliti memiliki hipotesis anak bisa menjadi psikopat saat dewasa jika anak-anak tidak menunjukkan rasa takut, selalu mencari sesuatu yang baru, kurang memperlihatkan sikap yang ramah serta mengurangi sensitifitas menjadi rangsangan yang negatif.
Tanda-tanda lain yang muncul saat masih balita adalah tingkat kenakalan yang sudah keterlaluan, suka menyendiri, suka merusak barang, mencuri, berbohong, suka merusak barang-barang yang ada terutama saat marah dan suka membentak.
Jika hal ini terjadi sebaiknya tidak dibiarkan tapi segera melakukan pencegahan sejak dini, sehingga anak tidak terbiasa dengan perilaku seperti itu.
Hingga kini tidak ada jawaban pasti mengenai teori yang menyebabkan seseorang membawa sifat psikopat. Tapi beberapa bukti kuat mengenai peran genetik berasal dari sebuah studi tahun 2005 yang diterbitkan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry.
Hasil studi ini menemukan komponen genetik sangat kuat untuk perilaku antisosial yang ekstrim seperti berkelahi, bullying, berbohong, menipu dan mencuri ditemukan pada anak yang memiliki sifat kepribadian callous-unemotional (CU) tinggi.
Faktor lingkungan keras yang ditandai dengan kasus pelecehan, perampasan, kekerasan, rumah tangga yang tidak bahagia atau kehidupan masa lalu yang buruk bisa mempengaruhi perilakunya. Namun jika semuanya baik-baik saja ada kemungkinan faktor genetik lebih berpengaruh.
Meskipun peneliti sedang mencari gen psikopati, Hare berpendapat tidak akan pernah ada satu gen saja yang mempengaruhi. Tetapi lebih cenderung sekelompok gen yang belum tahu bagaimana mekanismenya dapat mempengaruhi sifat-sifat seperti impulsif, ketakutan dan empati seseorang. Meskipun nantinya gen ini ditemukan, tidak berarti seseorang sudah pasti terlahir sebagai psikopat.
"Seseorang tidak mungkin dilahirkan sebagai psikopat, tapi mungkin orang tersebut memiliki dasar-dasarnya. Intinya semua orang dilahirkan dengan memiliki temperamen dan hal ini dibentuk dari lingkungan," ungkap Hare, ahli psikopat dari Kanada, seperti dikutip dari MSNBC.
Selain mencari tanda-tanda genetik, peneliti juga menganalisa otak dari seorang psikopat dengan menggunakan teknik pencitraan untuk mendapatkan petunjuk.
Peneliti menunjukkan bahwa psikopat kemungkinan akibat kekurangan aktivitas di bagian otak seperti amygdala yang memainkan peran kunci dalam hal emosi.
sumber:detik.com
Gejala Psikopat Bisa Terdeteksi Sejak Anak-anak
Seperti apa tanda-tanda anak yang kemungkinan mengembangkan gejala psikopat?
Ilmu psikologi, mendefinisikan psikopati sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan tidak adanya prinsip moral, emosional dan ketidakmampuan untuk menampilkan perilaku normal. Orang yang memiliki gangguan ini disebut dengan psikopat.
Beberapa ahli kesehatan mental menuturkan bahwa kondisi ini dapat dikenali tanda-tanda awalnya sejak balita yang memungkinkan ia berkembang menjadi seorang psikopat.
Namun terkadang hal ini belum tentu benar, karena karakteristik dan kepribadian seseorang bisa berubah. Selain itu, ada juga orang yang menjadi psikopat saat dewasa karena adanya permasalahan di masa lalu.
Gejala awal yang bisa diperhatikan oleh orangtua adalah anak tidak memiliki rasa empati dan terlihat adanya tanda-tanda bahaya yang muncul dari dalam dirinya.
Meski demikian masih sulit untuk mendeteksi apakah seorang anak bisa mengembangkan psikopat atau tidak, karena faktor lingkungan juga turut mempengaruhi.
Seperti dikutip dari Personalitydisorder.com, Kamis (6/5/2010) berdasarkan sebuah studi yang dilakukan selama 25 tahun menunjukkan sejak usia 3 tahun ada temperamen dan fisiologis yang berbeda antara seorang anak yang memiliki kecenderungan sebagai psikopat saat dewasa atau tidak.
Hasil ini telah dipublikasikan dalam The Journal of Abnormal Psychology pada tahun 2007.
Tim peneliti memiliki hipotesis anak bisa menjadi psikopat saat dewasa jika anak-anak tidak menunjukkan rasa takut, selalu mencari sesuatu yang baru, kurang memperlihatkan sikap yang ramah serta mengurangi sensitifitas menjadi rangsangan yang negatif.
Tanda-tanda lain yang muncul saat masih balita adalah tingkat kenakalan yang sudah keterlaluan, suka menyendiri, suka merusak barang, mencuri, berbohong, suka merusak barang-barang yang ada terutama saat marah dan suka membentak.
Jika hal ini terjadi sebaiknya tidak dibiarkan tapi segera melakukan pencegahan sejak dini, sehingga anak tidak terbiasa dengan perilaku seperti itu.
Hingga kini tidak ada jawaban pasti mengenai teori yang menyebabkan seseorang membawa sifat psikopat. Tapi beberapa bukti kuat mengenai peran genetik berasal dari sebuah studi tahun 2005 yang diterbitkan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry.
Hasil studi ini menemukan komponen genetik sangat kuat untuk perilaku antisosial yang ekstrim seperti berkelahi, bullying, berbohong, menipu dan mencuri ditemukan pada anak yang memiliki sifat kepribadian callous-unemotional (CU) tinggi.
Faktor lingkungan keras yang ditandai dengan kasus pelecehan, perampasan, kekerasan, rumah tangga yang tidak bahagia atau kehidupan masa lalu yang buruk bisa mempengaruhi perilakunya. Namun jika semuanya baik-baik saja ada kemungkinan faktor genetik lebih berpengaruh.
Meskipun peneliti sedang mencari gen psikopati, Hare berpendapat tidak akan pernah ada satu gen saja yang mempengaruhi. Tetapi lebih cenderung sekelompok gen yang belum tahu bagaimana mekanismenya dapat mempengaruhi sifat-sifat seperti impulsif, ketakutan dan empati seseorang. Meskipun nantinya gen ini ditemukan, tidak berarti seseorang sudah pasti terlahir sebagai psikopat.
"Seseorang tidak mungkin dilahirkan sebagai psikopat, tapi mungkin orang tersebut memiliki dasar-dasarnya. Intinya semua orang dilahirkan dengan memiliki temperamen dan hal ini dibentuk dari lingkungan," ungkap Hare, ahli psikopat dari Kanada, seperti dikutip dari MSNBC.
Selain mencari tanda-tanda genetik, peneliti juga menganalisa otak dari seorang psikopat dengan menggunakan teknik pencitraan untuk mendapatkan petunjuk.
Peneliti menunjukkan bahwa psikopat kemungkinan akibat kekurangan aktivitas di bagian otak seperti amygdala yang memainkan peran kunci dalam hal emosi.
sumber:detik.com
Saturday, 27 March 2010
Mengapa anak laki yang dekat dengan ibunya mempunyai emosi lebih seimbang...?
Nah..ini peringatan keras bagi para orang tua. Terutama bagi ibu yang nggak dekat sama anaknya. Konon berdasarkan penelitian...seorang anak laki yang dekat dengan ibunya, akan mempunyai tingkah laku yang lebih baik dan terkendali dibandingkan yang nggak dekat dengan ibunya. So...buat para ibu ...jangan bosan-bosan untuk terus berdialog dengan anak laki anda.....karena iutu sangat bermanfaat bagi keseimbangan emosi anak saat dewasa nanti. Lebih lanjut mengenai hal ini...simak artikel berikut:
Anak Laki Dekat dengan Ibu Minim Perilaku Negatif Saat Dewasa
Ibu sebaliknya jangan membuat jarak dalam hubungannya dengan anak lakinya. Karena penolakan kedekatan dari sang ibu akan membuat anak laki berperilaku negatif saat dewasa.
Sudah banyak kasus ibu yang lebih banyak marah menghadapi anak laki-lakinya yang nakal dan menolak untuk memahami perilakunya atau malah menjauh ketika anak sedang ingin dekat dengan ibunya.
Padahal ketulusan ibu untuk membuat hubungan yang akrab akan menjaga perilaku anak lakinya tetap lurus dan terkendali saat ia dewasa.
Peneliti menemukan anak laki-laki jarang terlibat masalah atau berperilaku negatif ketika dewasa jika si anak punya hubungan yang akrab dengan si ibu semasa kecilnya.
Ilmuwan menganalisa data 6000 anak di bawah usia 12 tahun. Hasilnya ditemukan, anak laki yang tidak punya hubungan akrab dengan ibu cenderung menjadi lebih agresif dan menderita masalah kesehatan mental.
Sebaliknya, anak laki akan tumbuh menjadi pribadi yang tenang, percaya diri dan punya banyak empati jika memiliki kenyamanan dengan ibunya ketika masa anak-anak.
Hubungan antara ibu dan anak laki-laki bisa rusak dari usia kanak-kanak jika anak-anak itu berulang kali ditolak ketika mencoba datang ke orangtuanya untuk minta bantuan.
Padahal anak-anak tidak dapat berpaling dari orangtuanya saat menghadapi masalah besar dalam kehidupannya di kemudian hari.
Pasco Fearon, profesor psikologi dari University of Reading, yang memimpin penelitian ini mengatakan anak-anak akan merasa aman, dekat dan berharap ada yang menghiburnya ketika mereka membutuhkannya.
"Sebaliknya, anak akan merasa tidak aman jika pernah memiliki mengalami hubungan yang ditolak dan putus asa karena tidak bisa dekat dengan orangtuanya, ditolak atau tidak ditanggapi," kata Fearon seperti dilansir dari Telegraph, Jumat (26/3/2010).
Anak-anak membutuhkan kekuatan kedua dari orang-orang terdekatnya untuk bisa mengatasi stres dan tantangan. "Anak-anak tidak akan mampu mengatasi risiko yang besar dalam masalah perilaku dan agresifnya," katanya.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Child Development.
sumber:detik.com
Anak Laki Dekat dengan Ibu Minim Perilaku Negatif Saat Dewasa
Ibu sebaliknya jangan membuat jarak dalam hubungannya dengan anak lakinya. Karena penolakan kedekatan dari sang ibu akan membuat anak laki berperilaku negatif saat dewasa.
Sudah banyak kasus ibu yang lebih banyak marah menghadapi anak laki-lakinya yang nakal dan menolak untuk memahami perilakunya atau malah menjauh ketika anak sedang ingin dekat dengan ibunya.
Padahal ketulusan ibu untuk membuat hubungan yang akrab akan menjaga perilaku anak lakinya tetap lurus dan terkendali saat ia dewasa.
Peneliti menemukan anak laki-laki jarang terlibat masalah atau berperilaku negatif ketika dewasa jika si anak punya hubungan yang akrab dengan si ibu semasa kecilnya.
Ilmuwan menganalisa data 6000 anak di bawah usia 12 tahun. Hasilnya ditemukan, anak laki yang tidak punya hubungan akrab dengan ibu cenderung menjadi lebih agresif dan menderita masalah kesehatan mental.
Sebaliknya, anak laki akan tumbuh menjadi pribadi yang tenang, percaya diri dan punya banyak empati jika memiliki kenyamanan dengan ibunya ketika masa anak-anak.
Hubungan antara ibu dan anak laki-laki bisa rusak dari usia kanak-kanak jika anak-anak itu berulang kali ditolak ketika mencoba datang ke orangtuanya untuk minta bantuan.
Padahal anak-anak tidak dapat berpaling dari orangtuanya saat menghadapi masalah besar dalam kehidupannya di kemudian hari.
Pasco Fearon, profesor psikologi dari University of Reading, yang memimpin penelitian ini mengatakan anak-anak akan merasa aman, dekat dan berharap ada yang menghiburnya ketika mereka membutuhkannya.
"Sebaliknya, anak akan merasa tidak aman jika pernah memiliki mengalami hubungan yang ditolak dan putus asa karena tidak bisa dekat dengan orangtuanya, ditolak atau tidak ditanggapi," kata Fearon seperti dilansir dari Telegraph, Jumat (26/3/2010).
Anak-anak membutuhkan kekuatan kedua dari orang-orang terdekatnya untuk bisa mengatasi stres dan tantangan. "Anak-anak tidak akan mampu mengatasi risiko yang besar dalam masalah perilaku dan agresifnya," katanya.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Child Development.
sumber:detik.com
Sunday, 14 March 2010
Inilah cara mendidik anak agar PINTAR
Dapat artikel menarik tentang cara mendidik anak agar pintar. Disini ditampilkan ada 9 car yang sederhana namun efektif untuk membuat anak anda menjadi pintar dan cerdas.
setiap orang tua pasti ingin kan...anaknya cerdas dan pintar. Namun tidak semua orang tua mau meluangkan waktunya sedikit saja untuk mengetahui perkembangan ananknya sendiri. Atau bahkan mendidiknya sendiri. Ini disebabkan si anak sudah dipercayakan kepada sekolah agar mendidik. Sedangkan orang tua sibuk mencari uang siang dan malam. Tak jarang si orang tua nggak pernah lihat anaknya bangun tidur karena sudah berangkat kerja.
Ada baiknya kita sebagai orang tua meluangkan waktu sejenak untuk mengetahui perkembangan anak kita.
Nah artikel berikut bisa anda terapkan untuk mendidik anak anda lebih pintar :
9 Cara Membuat Anak Pintar
Kepintaran seorang bisa dibilang sebuah anugerah yang diberikan kepada anak tersebut. Tapi ternyata faktor yang mempengaruhi kepintaran seorang anak juga ditentukan oleh lingkungannya.
Ada banyak hal yang bisa membuat anak menjadi lebih pintar, tentunya selain dengan belajar di sekolah. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari MSNNews, Sabtu (1/8/2009):
1. Bermain permainan yang berpikir
Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks.
2. Bermain musik
Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.
3. Pemberian ASI
ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.
4. Membiasakan berolahraga
Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.
5. Menyingkirkan makanan siap saji
Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.
6. Mengembangkan rasa ingin tahu
Para ahli mengatakan orang tua yang menunjukkan rasa ingin tahunya pada anak akan mendorong anak untuk mencari ide-ide baru, sehingga merangsang anak untuk berpikir. Mengajari anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.
7. Budayakan membaca
Membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Cara ini bisa dimulai dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.
8. Mengajarkan kepercayaan diri
Orang tua sebaiknya meningkatkan semangat dan optimisme anak-anak. Berpartisipasi dalam tim olahraga atau kegiatan sosial akan membantu meningkatkan kepercayaan diri sang anak diantara teman-temannya.
9. Memberikan sarapan yang sehat
Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah.
sumber:detik.com
setiap orang tua pasti ingin kan...anaknya cerdas dan pintar. Namun tidak semua orang tua mau meluangkan waktunya sedikit saja untuk mengetahui perkembangan ananknya sendiri. Atau bahkan mendidiknya sendiri. Ini disebabkan si anak sudah dipercayakan kepada sekolah agar mendidik. Sedangkan orang tua sibuk mencari uang siang dan malam. Tak jarang si orang tua nggak pernah lihat anaknya bangun tidur karena sudah berangkat kerja.
Ada baiknya kita sebagai orang tua meluangkan waktu sejenak untuk mengetahui perkembangan anak kita.
Nah artikel berikut bisa anda terapkan untuk mendidik anak anda lebih pintar :
9 Cara Membuat Anak Pintar
Kepintaran seorang bisa dibilang sebuah anugerah yang diberikan kepada anak tersebut. Tapi ternyata faktor yang mempengaruhi kepintaran seorang anak juga ditentukan oleh lingkungannya.
Ada banyak hal yang bisa membuat anak menjadi lebih pintar, tentunya selain dengan belajar di sekolah. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari MSNNews, Sabtu (1/8/2009):
1. Bermain permainan yang berpikir
Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks.
2. Bermain musik
Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.
3. Pemberian ASI
ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.
4. Membiasakan berolahraga
Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.
5. Menyingkirkan makanan siap saji
Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.
6. Mengembangkan rasa ingin tahu
Para ahli mengatakan orang tua yang menunjukkan rasa ingin tahunya pada anak akan mendorong anak untuk mencari ide-ide baru, sehingga merangsang anak untuk berpikir. Mengajari anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.
7. Budayakan membaca
Membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Cara ini bisa dimulai dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.
8. Mengajarkan kepercayaan diri
Orang tua sebaiknya meningkatkan semangat dan optimisme anak-anak. Berpartisipasi dalam tim olahraga atau kegiatan sosial akan membantu meningkatkan kepercayaan diri sang anak diantara teman-temannya.
9. Memberikan sarapan yang sehat
Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah.
sumber:detik.com
Saturday, 20 February 2010
Tips Mengajarkan Tauhid pada anak sejak kecil
Beberapa hari terakhir ini anakku memang agak "cerewet" . Dikit-dikit tanya...bahkan pertanyaannya sedikit agak nyleneh dan tak terduga. Seperti : Tuhan itu dimana....mengapa aku nggak bisa melihat Tuhan. Malaikat itu gimana bentuknya.....Malaikat sama hantu kuat mana.....dll. Pokoknya makin dijawab.... makin sulit aja pertanyaannya.
Ya memang namanya anak-anak ya harus begitu. Kita sebagai orang tua lah yang harus sabar dalam memberikan penjelasan dan pengertian. Salah satu trik yang aku gunakan untuk menjelaskan tentang Tuhan adalah dengan memakai logika kebaikan dan keburukan.
Misalnya : kalau kita didunia ini hidupnya banyak melakukan kebaikan...maka besok kalau sudah mati...akan masuk surga. Karena Tuhan menyukai kebaikan. Sebaliknya kalau kita sering melakukan kejahatan atau keburukan...misalnya nakal...nggak "manut" atau patuh sama orang tua....ya..besok harus masuk neraka.
Biasanya anakku langsung bertanya: Zidan baik kan yah...?. YA baik...asalkan nggak nakal...dan kalau terlanjur berbuat buruk segera minta maaf. Tadi zidan kan nakal sma bunda...jadi nanti minta maaf ya sama bunda....biar catatan keburukannya dihapus sama malaikat....
Memang , memperkenalkan anak kepada Tuhan itu haruslah sejak dini. Karena kita nggak bisa mendampingi si anak terus menerus. Kita nggak tahu lagi di masa anak kita besar nanti...dunia macam apa yang ia hadapi. Setidaknya bekal keyakinan kepada Tuhan, malaikat, surga dan neraka.....bisa dijadikan benteng yang kuat bagi anak untuk menapaki kehidupannya.
Tantangan dunia yang begitu berat, dimana banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya..entah itu uang, jabatan, atau kekuasaan..... Nggak peduli baik dan buruk lagi...seolah-olah begitu nyata di depan kita. Kalau kita nggak membekali anak dengan jiwa Tauhid (keyakinan kepada Tuhan) yang kuat...maka bukan tidak mungkin ..si anak akan menjadi manusia yang tersesat dan tidak bahagia.
Semoga saja kita mampu diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak kita untuk menjadi generasi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan....Amiien.
Ya memang namanya anak-anak ya harus begitu. Kita sebagai orang tua lah yang harus sabar dalam memberikan penjelasan dan pengertian. Salah satu trik yang aku gunakan untuk menjelaskan tentang Tuhan adalah dengan memakai logika kebaikan dan keburukan.
Misalnya : kalau kita didunia ini hidupnya banyak melakukan kebaikan...maka besok kalau sudah mati...akan masuk surga. Karena Tuhan menyukai kebaikan. Sebaliknya kalau kita sering melakukan kejahatan atau keburukan...misalnya nakal...nggak "manut" atau patuh sama orang tua....ya..besok harus masuk neraka.
Biasanya anakku langsung bertanya: Zidan baik kan yah...?. YA baik...asalkan nggak nakal...dan kalau terlanjur berbuat buruk segera minta maaf. Tadi zidan kan nakal sma bunda...jadi nanti minta maaf ya sama bunda....biar catatan keburukannya dihapus sama malaikat....
Memang , memperkenalkan anak kepada Tuhan itu haruslah sejak dini. Karena kita nggak bisa mendampingi si anak terus menerus. Kita nggak tahu lagi di masa anak kita besar nanti...dunia macam apa yang ia hadapi. Setidaknya bekal keyakinan kepada Tuhan, malaikat, surga dan neraka.....bisa dijadikan benteng yang kuat bagi anak untuk menapaki kehidupannya.
Tantangan dunia yang begitu berat, dimana banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya..entah itu uang, jabatan, atau kekuasaan..... Nggak peduli baik dan buruk lagi...seolah-olah begitu nyata di depan kita. Kalau kita nggak membekali anak dengan jiwa Tauhid (keyakinan kepada Tuhan) yang kuat...maka bukan tidak mungkin ..si anak akan menjadi manusia yang tersesat dan tidak bahagia.
Semoga saja kita mampu diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak kita untuk menjadi generasi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan....Amiien.
Friday, 5 February 2010
Tirakat untuk anak agar menjadi anak yang sholeh
Ada pepatah yang mengatakan " Ajarlah anakmu sebaik-baiknya....dan berikanlah bekal yang secukupnya untuk menghadapi masa depan...Karena masa yang dihadapi anakmu kelak...akan sangat jauh beda dengan masa mu sekarang ini..." Kurang lebih begitulah bunyi pepatah itu. Apakah artinya ya...???
Memang pendidikan anak melalui jalur formal saja tidak cukup. Bahkan kalau menurut Om Bob Sadino.....sekolah itu hanya membuat anak semakin bodoh karena hanya mengajarkan barang basi berupa informasi. Tapi bagaimana kita bisa lepas dari sekolah. Semua orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke sekolah yang tinggi...dengan harapan suatu saat menjadi orang yang sukses. Tentu saja salah satu ukuran orang sukses adalah kaya secara materi ...dan dihormati di masyarakat. Apakah itu saja ukuran sukses..?
Ya ...memang saat ini hampir semua orang mengejar materi dalam hidupnya adalah satu-satunya tujuan hidup. Akibatnya mereka melupakan hal paling mendasar yang sebenarnya dicari oleh manusia...yaitu kebahagiaan. Akibatnya apa...?
Banyak penyakit kejiwaan yang menghinggapi manusia. Rasa kehampaan yang luar biasa....rasa keterasingan...dan rasa stress yang berat..Akibatnya banyak diantara mereka yang lari ke narkoba...seks bebas....dan gaya hidup hedonisme...hura-hura dan semau gue.
Sekarang aja gejala seperti itu sudah sangat terasa dan terlihat terang. Apalagi 10 sampai 20 tahun mendatang...? Untuk itu anak kita harus mendapat bekal yang lebih baik lagi. Perlu diajarkan caranya berlaku sabar, santun, percaya diri, hormat dan patuh...dan tawakal kepada Allah swt. Dan yang nggak kalah pentingnya yaitu ...kita perlu melakukan tirakat untuk anak-anak kita. Gimana caranya ya....?
Salah satu caranya adalah dengan melakukan puasa senin kamis dan sholat malam. Sambil terus berdoa kepada Allah agar anak kita menjadianak yang sholeh dan berguna bagi banyak orang.
Nah gimana pendapat anda...?
Memang pendidikan anak melalui jalur formal saja tidak cukup. Bahkan kalau menurut Om Bob Sadino.....sekolah itu hanya membuat anak semakin bodoh karena hanya mengajarkan barang basi berupa informasi. Tapi bagaimana kita bisa lepas dari sekolah. Semua orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke sekolah yang tinggi...dengan harapan suatu saat menjadi orang yang sukses. Tentu saja salah satu ukuran orang sukses adalah kaya secara materi ...dan dihormati di masyarakat. Apakah itu saja ukuran sukses..?
Ya ...memang saat ini hampir semua orang mengejar materi dalam hidupnya adalah satu-satunya tujuan hidup. Akibatnya mereka melupakan hal paling mendasar yang sebenarnya dicari oleh manusia...yaitu kebahagiaan. Akibatnya apa...?
Banyak penyakit kejiwaan yang menghinggapi manusia. Rasa kehampaan yang luar biasa....rasa keterasingan...dan rasa stress yang berat..Akibatnya banyak diantara mereka yang lari ke narkoba...seks bebas....dan gaya hidup hedonisme...hura-hura dan semau gue.
Sekarang aja gejala seperti itu sudah sangat terasa dan terlihat terang. Apalagi 10 sampai 20 tahun mendatang...? Untuk itu anak kita harus mendapat bekal yang lebih baik lagi. Perlu diajarkan caranya berlaku sabar, santun, percaya diri, hormat dan patuh...dan tawakal kepada Allah swt. Dan yang nggak kalah pentingnya yaitu ...kita perlu melakukan tirakat untuk anak-anak kita. Gimana caranya ya....?
Salah satu caranya adalah dengan melakukan puasa senin kamis dan sholat malam. Sambil terus berdoa kepada Allah agar anak kita menjadianak yang sholeh dan berguna bagi banyak orang.
Nah gimana pendapat anda...?
Monday, 25 January 2010
Tips mendidik anak agar sabar
Beberapa hari ini anak ku memang kelihatan agak kurang sabar dan pemarah. dikit-dikit teriak ..minta ini..minta itu...harus cepat dan kalau nggak cepat dia akan nangis. Walah....nih anak turun siapa yah...kayaknya aku dulu waktu kecil nggak seperti itu. Pasti ini turun dari bundanya..he..he..he...(membela diri).
Iseng-iseng aku nanya sama eyangnya : " Eyang nih zidan kok gampang marah dan nggak mau sabar sih...apa aku dulu waktu kecil juga kayak gitu...?" ( berharap jawabannya "tidak")
teryata eyang menjawab:" Betul itu...wong kamu dulu waktu kecil juga kayak gitu..."
Walah...ternyata turun dari aku ya...
Memang kalau dilihat dari usianya yg 4 tahun ....kayaknya masih wajar bila mempunyai sifat demkian. Tapi aku nggak mau kalau sifat buruknya itu nanti kebawa sampai besar. Bisa bahaya tuh....
Nah ini ada sedikit tips untuk mengatasi anak yang kurang sabaran. Ini sudah aku praktekkan sendiri. Waktu itu anakku minta es krim dan harus dibelikan saat itu juga. Namun aku jelaskan bahwa kalau kamu mau bersabar...nanti akan dapat es krim yang lebih banyak dan lebih mudah. Si anak memang nangis luar biasa...sampai sesenggukan. Tapi aku tetap tak bergeming. Akhirnya anak ini aku ajak ke suatu tempat...sambil mengalihkan pembicaraan sedikit-sedikit. Dan diselingin cerita tentang seorang anak harus sabar...manut sama orang tua....pasti akan jadi anak baik. Kalau baik...nanti bisa masuk surga...dan seterusnya.
Al hasil...si anak mulai diam dan mau mendengarkan nasehat.
Ternyata ke ajaiban datang. Nggak seberapa lama...ada tukang es krim yang lewat. Lebih murah dan enak. Akhirnya aku belikan aja dia...es krim tersebut. Sambil menasehati kalau kita mau bersabar...tentu akan mendapat lebih baik dan lebih enak lagi.
Nah ..semoga tips ini bisa bermanfaat bagi kita untuk mendidik anak agar lebih bersabar. Intinya adalah tetap teguh , jangan takut anak menangis...dan menasehati anak dengan lemah lembut...serta ajak anak untuk berpikir lebih panjang.
Oh ya bagi yang mau belajar bisnis online silahkan klik di sini ya...banyak informasi bisnis online yang menarik lho...baik yang gratis maupun berbayar.
Monday, 12 October 2009
Inilah tips agar anak anda menjadi cerdas
Mendidik anak agar cerdas, bisa di mulai dari kecil. Karena dengan membiasakannya sejak kecil akan merangsang syaraf nya untuk bekerja lebih baik. Akibatnya kala dewasa nanti...si anak akan lebih teratur cara berpikirnya. Berikut ini ada sebuah artikel yang sangat menarik tentang cara mendidik anak agar lebih cerdas yang saya ambil dari detik.com.
Cara Merangsang Anak Cerdas
Nurul Ulfah - detikHealth
Jakarta, Membentuk anak cerdas bisa dibilang susah-susah gampang, butuh pengorbanan dan kerja keras orang tua. Stimulasi anak sejak dini akan sangat membantu proses tumbuh kembangnya, terutama proses belajarnya kelak di sekolah. Stimulasi apa saja yang bisa membentuk anak cerdas?
Socrates mengatakan bahwa kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh 1 persen kecerdasan dan 99 persen kerja keras. Ketika dilahirkan, setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, tergantung dari faktor genetiknya. Namun seiring pertumbuhannya, faktor nutrisi dan lingkungan akan lebih mendominasi ketimbang faktor genetik. Kuncinya adalah stimulasi atau rangsangan.
"Kecerdasan itu butuh rangsangan, dan ketika masih anak-anak rangsangan yang paling baik untuk kecerdasannya adalah melalui bermain dan perhatian," ujar Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ dalam seminar 'Bagaimana Membentuk Seorang Anak yang Sehat, Cerdas dan Berkualitas' yang digelar di Gedung IASTH FKUI. Tjhin mengatakan bahwa kecerdasan seseorang bisa dilihat dari banyaknya cabang-cabang dendrit yang terhubung antar sel-sel otak. Sedangkan jika dilihat dari struktur otak luar, maka semakin banyak lekuk-lekuk pada otak, semakin cerdas seorang anak.
"Tapi yang harus diwaspadai orang tua adalah ketika anak masuk masa remaja karena ketika remaja terjadi peningkatan hormon-hormon yang akan mempengaruhi sistem sarafnya. Jika remaja tidak bisa mengatasi perubahan yang terjadi dalam tubuhnya, maka ia bisa mengalami gangguan saraf dan otak, "jelas Tjhin.
Sebuah penelitian di Amerika Serikat mendapatkan 1,8 persen dari anak usia sekolah mengalami kesulitan belajar, terutama membaca. Sebanyak 20 persennya disebutkan mengalami defisit neurologis yang bervariasi dari ringan sampai berat. Oleh karena itu, untuk menghindari gangguan fungsi saraf dan mencerdaskan anak, harus diberi rangsangan sejak dini yang disesuaikan dengan umurnya.imuasi
Tjhin pun memberi tips menstimulasi kemampuan otak anak di setiap tahap tumbuh kembangnya.
Usia 0-3 bulan:
1. Berikan rasa aman dengan pelukan, menggendong, menatap, mengajak tersenyum
2. Stimulasi pendengaran dengan membunyikan suara
3. Stimulasi penglihatan dengan menggerakkan benda berwarna mencolok
4. Stimulasi gerakan motorik dengan menggulingkan badan bayi ke kanan dan kiri, tengkurap, telentang.
Usia 3-6 bulan:
Bermain cilukba, ajarkan melihat wajah bayi di cermin, dirangsang duduk
Usia 6-9 bulan:
Ajarkan panggil nama, salaman, tepuk tangan, baca dongeng, rangsang berdiri
Usia 9-12 bulan:
Mengulang-ulang kata, menyebut mama, papa, kakak, belajar memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelinding bola, latihan berdiri, jalan berpegangan.
Usia 12-16 bulan:
Latihan corat-coret pensil warna, susun balok, puzzle, bermain dengan boneka, jalan mundur, panjat tangga, tendang bola, lepas celana.
Usia 18-24 bulan:
Tunjuk bagian tubuh, sebuut nama binatang atau benda, ajak bicara kegiatan sehari-hari, latihan gambar garis, cuci tangan, melompat, pakai baju dan celana sendiri.
Usia 2-3 tahun:
Menyebut kata sifat, menghitung benda, sikat gigi sendiri, masak-masakan, berdiri satu kaki, buang air kecil atau besar sendiri
Usia 3 tahun ke atas:
Persiapan sekolah, memegang pensil dengan baik, berhitung sederhana, mandiri, berbagi dengan teman
"Pastikan anak mendapatkan semua rangsangan itu kalau ingin cerdas. Satu lagi, kalau anak perempuan coba ajarkan balet karena kegiatan sangat bagus dalam menggabungkan semua stimulasi, baik visual, audio, kinestetik dan motorik," ujar Tjhin.
Dapatkan infobisnis online terbaik di www.inginbahagia.com
Cara Merangsang Anak Cerdas
Nurul Ulfah - detikHealth
Jakarta, Membentuk anak cerdas bisa dibilang susah-susah gampang, butuh pengorbanan dan kerja keras orang tua. Stimulasi anak sejak dini akan sangat membantu proses tumbuh kembangnya, terutama proses belajarnya kelak di sekolah. Stimulasi apa saja yang bisa membentuk anak cerdas?
Socrates mengatakan bahwa kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh 1 persen kecerdasan dan 99 persen kerja keras. Ketika dilahirkan, setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, tergantung dari faktor genetiknya. Namun seiring pertumbuhannya, faktor nutrisi dan lingkungan akan lebih mendominasi ketimbang faktor genetik. Kuncinya adalah stimulasi atau rangsangan.
"Kecerdasan itu butuh rangsangan, dan ketika masih anak-anak rangsangan yang paling baik untuk kecerdasannya adalah melalui bermain dan perhatian," ujar Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ dalam seminar 'Bagaimana Membentuk Seorang Anak yang Sehat, Cerdas dan Berkualitas' yang digelar di Gedung IASTH FKUI. Tjhin mengatakan bahwa kecerdasan seseorang bisa dilihat dari banyaknya cabang-cabang dendrit yang terhubung antar sel-sel otak. Sedangkan jika dilihat dari struktur otak luar, maka semakin banyak lekuk-lekuk pada otak, semakin cerdas seorang anak.
"Tapi yang harus diwaspadai orang tua adalah ketika anak masuk masa remaja karena ketika remaja terjadi peningkatan hormon-hormon yang akan mempengaruhi sistem sarafnya. Jika remaja tidak bisa mengatasi perubahan yang terjadi dalam tubuhnya, maka ia bisa mengalami gangguan saraf dan otak, "jelas Tjhin.
Sebuah penelitian di Amerika Serikat mendapatkan 1,8 persen dari anak usia sekolah mengalami kesulitan belajar, terutama membaca. Sebanyak 20 persennya disebutkan mengalami defisit neurologis yang bervariasi dari ringan sampai berat. Oleh karena itu, untuk menghindari gangguan fungsi saraf dan mencerdaskan anak, harus diberi rangsangan sejak dini yang disesuaikan dengan umurnya.imuasi
Tjhin pun memberi tips menstimulasi kemampuan otak anak di setiap tahap tumbuh kembangnya.
Usia 0-3 bulan:
1. Berikan rasa aman dengan pelukan, menggendong, menatap, mengajak tersenyum
2. Stimulasi pendengaran dengan membunyikan suara
3. Stimulasi penglihatan dengan menggerakkan benda berwarna mencolok
4. Stimulasi gerakan motorik dengan menggulingkan badan bayi ke kanan dan kiri, tengkurap, telentang.
Usia 3-6 bulan:
Bermain cilukba, ajarkan melihat wajah bayi di cermin, dirangsang duduk
Usia 6-9 bulan:
Ajarkan panggil nama, salaman, tepuk tangan, baca dongeng, rangsang berdiri
Usia 9-12 bulan:
Mengulang-ulang kata, menyebut mama, papa, kakak, belajar memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelinding bola, latihan berdiri, jalan berpegangan.
Usia 12-16 bulan:
Latihan corat-coret pensil warna, susun balok, puzzle, bermain dengan boneka, jalan mundur, panjat tangga, tendang bola, lepas celana.
Usia 18-24 bulan:
Tunjuk bagian tubuh, sebuut nama binatang atau benda, ajak bicara kegiatan sehari-hari, latihan gambar garis, cuci tangan, melompat, pakai baju dan celana sendiri.
Usia 2-3 tahun:
Menyebut kata sifat, menghitung benda, sikat gigi sendiri, masak-masakan, berdiri satu kaki, buang air kecil atau besar sendiri
Usia 3 tahun ke atas:
Persiapan sekolah, memegang pensil dengan baik, berhitung sederhana, mandiri, berbagi dengan teman
"Pastikan anak mendapatkan semua rangsangan itu kalau ingin cerdas. Satu lagi, kalau anak perempuan coba ajarkan balet karena kegiatan sangat bagus dalam menggabungkan semua stimulasi, baik visual, audio, kinestetik dan motorik," ujar Tjhin.
Dapatkan infobisnis online terbaik di www.inginbahagia.com
Sunday, 26 April 2009
Tips MENDIDIK ANAK BALITA agar CERDAS
Orang tua mana pun selalu menginginkan buah hatinya menjadi seorang yang cerdas. Hingga usaha apapun akan dilakukan, hingga semakin berkembangnya kebutuhan itu bermunculan pula rupa-rupa media mulai dari flash card sampai CD ataupun berbagai macam buku dan mainan. Dan orang tua menjadi risau ketika si kecil tidak tertarik minatnya sedikit pun, yang membuat anda bertanya-tanya apakah si kecil bermasalah atau anda sendiri yang salah mendidik?
Jangan khawatir dulu, ternyata menurut penelitian Linda Acredolo Ph.D, dalam bukunya “Baby Minds: Brain-Building Games Your Baby Will Love, yang berpendapat bahwa “Perkembangan ingatan, kemampuan menyelesaikan masalah, kreativiatas, bahasa dan ketrampilan matematika berkembang ketika anak anda mendapat tantangan, perhatian dan cinta”. Jadi untuk merangsang peningkatan intelegensia si kecil tidak harus memerlukan media yang mahal, namun hanya dengan bermain dalam suasana yang menyenangkan, memberikan rasa aman dan menciptakan lingkungan yang memberikan pengasuhan, anda sudah membantu pertumbuhan intelegensia si buah hati.
Ada 6 cara untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak balita anda
1. Menyanyi bersama
Mengajak anak bernyanyi bersama awalnya hanya menimbulkan rasa senang. Anda bisa melakukannya sambil mengerjakan pekerjaan rumah atau saat di perjalanan menjemput kakak. Hingga lambat laun anak anda akan belajar membuat syair lagu dengan kata-katanya sendiri. Membuat lagu pendek dan mendorong anak melakukan hal yang sama membantu meningkatkan ingatan dan perkembangan bahasa anak. Dan hasil penelitian dari University of California di Irvine dan University of Wsconsin di Oshkosh menemukan anak-anak prasekolah yang mempunyai keyboard dan instruksi menyanyi bersama dalam grup mempunyai penalaran spatial-temporal yang lebih baik (ketrampilan yang membantu anak dalam menyusun puzzles, geometri, menyusun balok, pecahan dan perbandingan).
2. Sajak setiap saat
Dalam bukunya 125 brain Games for Toddlers and two: Simple Games to Promote Early Brain Development, Jackie Silberg berpendapat bahwa “Sajak membantu meningkatkan komunikasi karena mengajarkan kepada anak-anak bahwa bahasa tidak hanya sekedar merangkai kata-kata tetapi juga bagaimana cara menggunakan kata-kata itu. Sehingga semakin sering anak mendengar sajak, makin cepat dia belajar kata-kata yang menghasilkan berbagai bunyi berbeda, sebuah pemahaman yang mendorong ketrampilan membaca. Selain itu, akan lebih membantu apabila penyampaiannya dilakukan melalui sebuah tindakan yang digambarkan ke dalam gerakan-gerakan.
3. Baca lagi dan lagi
Mengekspos buku, game atau lagu yang disukai secara berulang-ulang ternyata mampu membantu anak balita mengembangkan ingatan, rentang perhatian dan perbendaharaan kata. Penelitian menunjukkan, anak yang membaca buku yang sama, memahami kata-kata sulit didalamnya 3 kali lebih baik dibanding anak yang hanya sekali mendengar cerita itu. Selain itu, rasa menguasai yang muncul saat anak mulai membaca buku itu sendiri dengan mengisi kata-kata dan ungkapan yang dia ingat juga mendorong anak untuk mengejar pengetahuan.
4. Mengerjakan matematika
Menghitung benda-benda yang ditemui misal: garis-garis pada zebra cross atau buku di rak adalah cara menyenangkan untuk mengajari anak bilangan. Tambahkan beberapa konsep matematik yang lebih lanjut seperti penjumlahan, pengurangan, menunjukkan jika jumlah berubah, contohnya: “ada 4 ekor kucing, I ekor lari sekarang tinggal 3 ekor kucing”, atau katakana sepatu ayah lebih besar daripada sepetu kamu.
5. Bacakan lebih banyak cerita
Anda tahu, membacakan buku untuk anak anda merupakan cara yang baik bagi anak untuk belajar melek huruf. Tapi hasil penelitian menemukan, hal ini sama pentingnya dengan membicarakan apa yang anda lihat didalam gambar-gambar, mengajukan pertanyaan yang berhubungan dan mendorong anak untuk membicarakan tokoh dan alur cerita. Dalam hal perkembangan bahasa, anak-anak yang orangtuanya melibatkan mereka dengan cara membaca yang seperti ini lebih cepat belajar membaca dibanding anak-anak yang orangtuanya hanya membacakan teks di buku. Jadi, coba tantang si kecil untuk mencari gambar atau kata-kata di dalam buku untuk melatih konsentrasi.
6. Biarkan mereka bermain
Biarkan anak anda bermain apa saja yang diinginkannya agar imajinasi anak mampu berkembang. Ini adalah salah satu cara terbaik mengembangkan kreativitas dirinya.
Biarkan cinta anda mengalir
Melimpahi anak anda yang berusia 2 tahun dengan cinta tak bersyarat adalah cara terbaik untuk meningkatkan otaknya. Mengungkapkan afeksi kepada anak balita anda akan mampu juga meningkatkan rentang perhatian dan kemampuan-kemampuan sosialnya. Para ahli menemukan bahwa kontak mata, sentuhan dan hubungan emosional meningkatkan jumlah dopamine otak, dimana dopamine adalah neurotransmitter yang berguna untuk melakukan berbagai fungsi penting termasuk belajar fokus dan kerja sama. (menurut Becky Bailey Ph.D dalam bukunya I Love You Rituals).
Jadi jangan pelit dengan sentuhan, dekapan dan ciuman. Tambahkan komponen dekapan saat menyanyi bersama. Gunakan pangkuan anda sebagai kendaraan dan lengan anda sebagai dayung untuk merangkulnya
Jangan khawatir dulu, ternyata menurut penelitian Linda Acredolo Ph.D, dalam bukunya “Baby Minds: Brain-Building Games Your Baby Will Love, yang berpendapat bahwa “Perkembangan ingatan, kemampuan menyelesaikan masalah, kreativiatas, bahasa dan ketrampilan matematika berkembang ketika anak anda mendapat tantangan, perhatian dan cinta”. Jadi untuk merangsang peningkatan intelegensia si kecil tidak harus memerlukan media yang mahal, namun hanya dengan bermain dalam suasana yang menyenangkan, memberikan rasa aman dan menciptakan lingkungan yang memberikan pengasuhan, anda sudah membantu pertumbuhan intelegensia si buah hati.
Ada 6 cara untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak balita anda
1. Menyanyi bersama
Mengajak anak bernyanyi bersama awalnya hanya menimbulkan rasa senang. Anda bisa melakukannya sambil mengerjakan pekerjaan rumah atau saat di perjalanan menjemput kakak. Hingga lambat laun anak anda akan belajar membuat syair lagu dengan kata-katanya sendiri. Membuat lagu pendek dan mendorong anak melakukan hal yang sama membantu meningkatkan ingatan dan perkembangan bahasa anak. Dan hasil penelitian dari University of California di Irvine dan University of Wsconsin di Oshkosh menemukan anak-anak prasekolah yang mempunyai keyboard dan instruksi menyanyi bersama dalam grup mempunyai penalaran spatial-temporal yang lebih baik (ketrampilan yang membantu anak dalam menyusun puzzles, geometri, menyusun balok, pecahan dan perbandingan).
2. Sajak setiap saat
Dalam bukunya 125 brain Games for Toddlers and two: Simple Games to Promote Early Brain Development, Jackie Silberg berpendapat bahwa “Sajak membantu meningkatkan komunikasi karena mengajarkan kepada anak-anak bahwa bahasa tidak hanya sekedar merangkai kata-kata tetapi juga bagaimana cara menggunakan kata-kata itu. Sehingga semakin sering anak mendengar sajak, makin cepat dia belajar kata-kata yang menghasilkan berbagai bunyi berbeda, sebuah pemahaman yang mendorong ketrampilan membaca. Selain itu, akan lebih membantu apabila penyampaiannya dilakukan melalui sebuah tindakan yang digambarkan ke dalam gerakan-gerakan.
3. Baca lagi dan lagi
Mengekspos buku, game atau lagu yang disukai secara berulang-ulang ternyata mampu membantu anak balita mengembangkan ingatan, rentang perhatian dan perbendaharaan kata. Penelitian menunjukkan, anak yang membaca buku yang sama, memahami kata-kata sulit didalamnya 3 kali lebih baik dibanding anak yang hanya sekali mendengar cerita itu. Selain itu, rasa menguasai yang muncul saat anak mulai membaca buku itu sendiri dengan mengisi kata-kata dan ungkapan yang dia ingat juga mendorong anak untuk mengejar pengetahuan.
4. Mengerjakan matematika
Menghitung benda-benda yang ditemui misal: garis-garis pada zebra cross atau buku di rak adalah cara menyenangkan untuk mengajari anak bilangan. Tambahkan beberapa konsep matematik yang lebih lanjut seperti penjumlahan, pengurangan, menunjukkan jika jumlah berubah, contohnya: “ada 4 ekor kucing, I ekor lari sekarang tinggal 3 ekor kucing”, atau katakana sepatu ayah lebih besar daripada sepetu kamu.
5. Bacakan lebih banyak cerita
Anda tahu, membacakan buku untuk anak anda merupakan cara yang baik bagi anak untuk belajar melek huruf. Tapi hasil penelitian menemukan, hal ini sama pentingnya dengan membicarakan apa yang anda lihat didalam gambar-gambar, mengajukan pertanyaan yang berhubungan dan mendorong anak untuk membicarakan tokoh dan alur cerita. Dalam hal perkembangan bahasa, anak-anak yang orangtuanya melibatkan mereka dengan cara membaca yang seperti ini lebih cepat belajar membaca dibanding anak-anak yang orangtuanya hanya membacakan teks di buku. Jadi, coba tantang si kecil untuk mencari gambar atau kata-kata di dalam buku untuk melatih konsentrasi.
6. Biarkan mereka bermain
Biarkan anak anda bermain apa saja yang diinginkannya agar imajinasi anak mampu berkembang. Ini adalah salah satu cara terbaik mengembangkan kreativitas dirinya.
Biarkan cinta anda mengalir
Melimpahi anak anda yang berusia 2 tahun dengan cinta tak bersyarat adalah cara terbaik untuk meningkatkan otaknya. Mengungkapkan afeksi kepada anak balita anda akan mampu juga meningkatkan rentang perhatian dan kemampuan-kemampuan sosialnya. Para ahli menemukan bahwa kontak mata, sentuhan dan hubungan emosional meningkatkan jumlah dopamine otak, dimana dopamine adalah neurotransmitter yang berguna untuk melakukan berbagai fungsi penting termasuk belajar fokus dan kerja sama. (menurut Becky Bailey Ph.D dalam bukunya I Love You Rituals).
Jadi jangan pelit dengan sentuhan, dekapan dan ciuman. Tambahkan komponen dekapan saat menyanyi bersama. Gunakan pangkuan anda sebagai kendaraan dan lengan anda sebagai dayung untuk merangkulnya
Friday, 17 April 2009
Bagaimana Mendidik anak taat agama
Artikel ini aku dapatkan dari sebuah blog, tentang cara mendidik anak agar taat syariah atau agama. Sangat bagus bila diterapkan pada saat ini. Karena anak merupakan titipan Allah...bila kita tidak mendidiknya sejak kecil dengan baik....tentu akan merugikan kita sendiri sebagai orang tua dan juga masa depan anak itu sendiri, ya kan.....?
Lihatlah betapa godaan disekeliling kita begitu banyak dan tanpa henti. Mulai dari pergaulan bebas, narkoba, hura-hura, hedonisme, tawuran antar pelajar, dan masih banyak kasus kejahatan lain yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Ini semua akibat kita sebagai orang tua salah dalam mendidiknya. Berikut artikel tersebut :
Mendidik anak taat syariah
Oleh: Ummu Azkiya
Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?
Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ’sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah. Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.
Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak.
Rasulullah saw. bersabda:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah. Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah. Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah. Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.
Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih. Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat. Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”
Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim. Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah.
Al Waie edisi 64
Lihatlah betapa godaan disekeliling kita begitu banyak dan tanpa henti. Mulai dari pergaulan bebas, narkoba, hura-hura, hedonisme, tawuran antar pelajar, dan masih banyak kasus kejahatan lain yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Ini semua akibat kita sebagai orang tua salah dalam mendidiknya. Berikut artikel tersebut :
Mendidik anak taat syariah
Oleh: Ummu Azkiya
Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?
Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ’sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah. Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.
Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak.
Rasulullah saw. bersabda:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah. Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah. Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah. Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.
Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih. Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat. Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”
Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim. Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah.
Al Waie edisi 64
Monday, 13 April 2009
10 HAL YANG DIINGINKAN ANAK
Sebagai orang tua, kebanyakan dari kita lebih memperhatikan perilaku anak, dan bukannya perilaku kita sebagai orang tua. Tentu ini sesuatu yang tak adil bagi anak. Cobalah lihat diri Anda dari sudut pandang anak.
Penelitian terhadap seratus ribu anak menunjukkan, ada 10 hal yang paling diinginkan anak dari orang tua mereka:
1. Tidak bertengkar di hadapan mereka. Anak selalu mencontoh tindakan orang tua. Apa jadinya jika setiap hari orang tua adu mulut di hadapan mereka?
2. Berlaku adil terhadap semua anak-anaknya. Setiap anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Yang mereka butuhkan bukan perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang adil, sesuai kebutuhan masing-masing anak.
3. Orang tua yang jujur. Orang tua yang meminta anaknya berbohong, tentu tidak sadar pada apa yang tengah dilakukannya. Sekali lagi, anak mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya.
4. Toleran terhadap orang lain. Toleransi akan mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.
5. Selalu menyambut teman-teman mereka dengan ramah.
6. Mau membangun semangat tim bersama mereka. Kekompakan antar-orang tua dan anak akan sangat berpengaruh saat anak beranjak dewasa.
7. Mau menjawab setiap pertanyaan mereka. Luangkan waktu untuk mereka. Jika Anda tak mampu menjawab, katakan Anda akan mencari tahu lebih dulu.
8. Mau mengajarkan disiplin, namun tidak di depan orang lain, terutama teman-teman mereka. Intinya, jagalah perasaan anak.
9. Lebih melihat sisi positif ketimbang sisi buruk mereka.
10. Konsisten. Bayangkan, apa yang dirasakan anak jika hari ini Anda menjawab A dan besok menjawab B untuk pertanyaan yang sama yang diajukan anak.
Penelitian terhadap seratus ribu anak menunjukkan, ada 10 hal yang paling diinginkan anak dari orang tua mereka:
1. Tidak bertengkar di hadapan mereka. Anak selalu mencontoh tindakan orang tua. Apa jadinya jika setiap hari orang tua adu mulut di hadapan mereka?
2. Berlaku adil terhadap semua anak-anaknya. Setiap anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Yang mereka butuhkan bukan perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang adil, sesuai kebutuhan masing-masing anak.
3. Orang tua yang jujur. Orang tua yang meminta anaknya berbohong, tentu tidak sadar pada apa yang tengah dilakukannya. Sekali lagi, anak mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya.
4. Toleran terhadap orang lain. Toleransi akan mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.
5. Selalu menyambut teman-teman mereka dengan ramah.
6. Mau membangun semangat tim bersama mereka. Kekompakan antar-orang tua dan anak akan sangat berpengaruh saat anak beranjak dewasa.
7. Mau menjawab setiap pertanyaan mereka. Luangkan waktu untuk mereka. Jika Anda tak mampu menjawab, katakan Anda akan mencari tahu lebih dulu.
8. Mau mengajarkan disiplin, namun tidak di depan orang lain, terutama teman-teman mereka. Intinya, jagalah perasaan anak.
9. Lebih melihat sisi positif ketimbang sisi buruk mereka.
10. Konsisten. Bayangkan, apa yang dirasakan anak jika hari ini Anda menjawab A dan besok menjawab B untuk pertanyaan yang sama yang diajukan anak.
Sunday, 12 April 2009
10 Hal Tabu dalam Mendidik Anak
Apa yang akan terjadi jika anak dibesarkan dalam kondisi yang dipenuhi dengan kekerasan? Tentu, ia akan mengadopsi cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak. Meski tak selalu, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, termasuk bagaimana orang tua mendidik mereka.
Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan.
Nah, berikut ini adalah 10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak:
1. Terlalu lemah
Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.
2. Terlalu menekan
Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan.
3. Perfeksionis
Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.
4. Tidak memberi perhatian
Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.
5. Terlalu cemas akan kesehatannya
Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya.
6. Terlalu memanjakan
Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang gampang bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang.
7. Tidak pernah memberi kepercayaan
Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. "Kamu, sih, nanti kalau jatuh, bagaimana?" Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua.
8. Menolak kehadiran anak
Misalnya, jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua.
9. Suka menghukum
Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Bisa-bisa anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak.
10. Suka menggoda
Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri.
Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan.
Nah, berikut ini adalah 10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak:
1. Terlalu lemah
Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.
2. Terlalu menekan
Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan.
3. Perfeksionis
Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.
4. Tidak memberi perhatian
Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.
5. Terlalu cemas akan kesehatannya
Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya.
6. Terlalu memanjakan
Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang gampang bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang.
7. Tidak pernah memberi kepercayaan
Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. "Kamu, sih, nanti kalau jatuh, bagaimana?" Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua.
8. Menolak kehadiran anak
Misalnya, jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua.
9. Suka menghukum
Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Bisa-bisa anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak.
10. Suka menggoda
Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri.
Saturday, 11 April 2009
MENDIDIK ANAK TAAT SYARIAH
Oleh: Ummu Azkiya
Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?
Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ’sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah. Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.
Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah. Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah. Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah. Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.
Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih. Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat. Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”
Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim. Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah.
Al Waie edisi 64
Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?
Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ’sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah. Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.
Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah. Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah. Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah. Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.
Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih. Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat. Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”
Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim. Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah.
Al Waie edisi 64
Sunday, 15 February 2009
Bagaimana Mendidik Anak Dengan Benar ?
Jika anak dibesarkan dengan kritikan, mereka akan belajar untuk mencela.
Jika anak dibesarkan dalam suasana permusuhan, mereka akan belajar untuk berseteru.
Jika anak dibesarkan dalam ketakutan, mereka belajar menjadi menjadi tidak berpengharapan.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, mereka akan belajar menyayangi diri sendiri.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, mereka tumbuh sebagai pemalu.
Jika anak dibesarkan dengan kedengkian, mereka belajar iri hati.
Jika anak dibesarkan tanpa penghargaan, mereka tumbuh dalam rasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, mereka akan belajar untuk percaya diri.
Jika anak dibesarkan dalam toleransi, mereka akan belajar kesabaran.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, mereka akan belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, mereka akan belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan penghargaan, mereka akan belajar untuk mencintai dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, mereka akan belajar untuk mempunyai tujuan.
Jika anak dibesarkan dalam suasana berbagi, mereka akan belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, mereka akan belajar bersikap sebagaimana adanya.
Jika anak dibesarkan dalam keadilan, mereka akan belajar bersikap adil.
Jika anak dibesarkan dengan kebaikan dan perhatian, mereka akan belajar menghormati.
Jika anak dibesarkan dengan perlindungan, mereka akan belajar untuk mempunyai keyakinan terhadap diri sendiri dan terhadap segala yang ia miliki.
Jika anak dibesarkan dalam persahabatan, mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang menyenangkan.
*Dari Children Learn What They Live oleh Dorothy Law Nolte, Ph.D - untuk versi bahasa Inggris, lihat di sini.
Jika anak dibesarkan dalam suasana permusuhan, mereka akan belajar untuk berseteru.
Jika anak dibesarkan dalam ketakutan, mereka belajar menjadi menjadi tidak berpengharapan.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, mereka akan belajar menyayangi diri sendiri.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, mereka tumbuh sebagai pemalu.
Jika anak dibesarkan dengan kedengkian, mereka belajar iri hati.
Jika anak dibesarkan tanpa penghargaan, mereka tumbuh dalam rasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, mereka akan belajar untuk percaya diri.
Jika anak dibesarkan dalam toleransi, mereka akan belajar kesabaran.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, mereka akan belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, mereka akan belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan penghargaan, mereka akan belajar untuk mencintai dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, mereka akan belajar untuk mempunyai tujuan.
Jika anak dibesarkan dalam suasana berbagi, mereka akan belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, mereka akan belajar bersikap sebagaimana adanya.
Jika anak dibesarkan dalam keadilan, mereka akan belajar bersikap adil.
Jika anak dibesarkan dengan kebaikan dan perhatian, mereka akan belajar menghormati.
Jika anak dibesarkan dengan perlindungan, mereka akan belajar untuk mempunyai keyakinan terhadap diri sendiri dan terhadap segala yang ia miliki.
Jika anak dibesarkan dalam persahabatan, mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang menyenangkan.
*Dari Children Learn What They Live oleh Dorothy Law Nolte, Ph.D - untuk versi bahasa Inggris, lihat di sini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Didik sugiarto
- Halo sobat...nama saya Didik Sugiarto.....Saya bukanlah blogger profesional....hanya sekedar hobi ngeblog dan juga belajar cara mencari uang dengan blog.....adsense, amazon, clickbank dll.......semoga blog ini bermanfaat bagi kita semua.

